| |
|
Peraturan Disiplin PNS
|
|
| |
|
|
Peraturan disiplin Pegawai Negeri Sipil
mengatur kewajiban, larangan, dan sanksi apabila kewajiban
tidak ditaati atau larangan dilanggar oleh Pegawai Negeri
Sipil yang bersangkutan.
|
|
| |
|
|
Pelanggaran disiplin adalah setiap ucapan,
tulisan dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil yang melanggara
ketentuan peraturan disiplin Pegawai Negeri Sipil, baik
yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja.
|
|
| |
|
|
Hukuman disiplin adalah hukuman yang
dijatuhkan kepada Pegawai Negeri Sipil karena melanggar
peraturan disiplin Pegawai Negeri Sipil .
|
|
| |
|
|
Tujuan hukuman disiplin adalah memperbaiki
dan mendidik Pegawai Negeri Sipl yang bersangkutan.
|
|
| |
|
|
Oleh karena itu setiap pejabat yang berwenang
menghukum wajib memeriksa lebih dahulu dengan seksama Pegawai
Negeri Sipil yang melakukan pelanggaran disiplin Pegawai
Negeri Sipil.
|
|
| |
|
|
Kewajiban yang harus dipatuhi oleh Pegawai
Negeri Sipil adalah tertuang dalam pasal 2 Peraturan Pemerintah
Nomor 30 Tahun 1980, ada sebanyak 26 butir.
|
|
| |
|
|
Larangan, yaitu tidak boleh dilanggar
oleh setiap Pegawai Negeri Sipil adalah tertuang dalam pasal
3 Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980, ada sebanyak
18 butir.
|
|
| |
|
|
Tingkat dan jenis hukuman disiplin Pegawai
Negeri Sipil adalah sebagai berikut :
|
|
| |
|
|
|
1.
|
Hukuman Disiplin
Ringan adalah : |
| |
|
a.
|
Tegoran
Lisan |
|
b.
|
Tegoran
Tertulis |
|
c.
|
Pernyataan
tidak puas secara tertulis. |
|
|
2.
|
Hukuman
Disiplin Sedang adalah : |
| |
|
a.
|
Penundaan
Kenaikan Gaji Berkala untuk paling lama 1 (Isatu)
tahun. |
|
b.
|
Penurunan
Gaji sebesar 1 (satu) kali kenaikan gaji berkala
untuk paling lama 1 (satu) tahun. |
|
c.
|
Penundaan
kenaikan pangkat untuk paling lama 1 (satu)
tahun. |
|
|
3.
|
Hukuman Disiplin
Berat |
| |
|
a.
|
Penurunan
Pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah
untuk paling lama 1 (satu) tahun. |
|
b.
|
Pembebasan
dari jabatan |
|
c.
|
Pemberhentian
dengan hormat tidak atas permintaan sendiri
sebagai Pegawai Negeri Sipil |
|
d.
|
Pemberhentian
tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil |
|
|
|
| |
|
Pejabat yang Berwenang Menghukum
|
|
| |
|
|
|
1.
|
Pejabat pembina
kepegawaian Kabupaten/Kota diberikan kewenangan untuk
menjatuhkan hukuman disiplin sampai dengan Pemberhentian
Tidak Dengan Hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil bagi
PNS yang berpangkat sampai dengan Penata Tk. I (III/d). |
|
2.
|
Kewenangan
penjatuhan hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan
hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS maupun
Pemberhentian Tidak Dengan Hormat sebagai Pegawai
Negeri Sipil bagi PNS yang berpangkat Pembina (IV/a)
ke atas berada pada Pejabat Pembina Kepegawaian Provinsi. |
|
|
| |
|
Pemeriksaan dan Penjatuhan Hukuman Disiplin
|
|
| |
|
|
Sebelum menjatuhkan hukuman disiplin,
pejabat yang berwenang menghukum, wajib memeriksa terlebih
dahulu Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran
disiplin.
|
|
| |
|
|
Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengetahui
benar atau tidaknya seorang Pegawai Negeri Sipil telah melakukan
pelanggaran disiplin dan untuk mengetahui hal-hal yang mendorong
yang bersangkutan melakukan pelanggaran disiplin tersebut.
|
|
| |
|
|
Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan
lisan dan tertulis dan secara tertutup. Apabila perlu dapat
mendengar atau meminta keterangan dari orang lain.
|
|
| |
|
|
Pejabat yang berwenang menghukum wajib
mempelajari hasil pemeriksaan tersebut dengan seksama, sebagai
bahan untuk memutuskan jenis hukuman disiplin yang akan
dijatuhkan harus setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan
oleh Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dan dapat diterima
dengan keadilan.
|
|
| |
|
|
Keputusan hukuman disiplin disampaikan
oleh pejabat yang berwenang menghukum secara tertutup kepada
Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.
|
|
| |
|
Keberatan atas hukuman disiplin
|
|
| |
|
|
Untuk jenis hukuman disiplin tertentu,
Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dapat mengajukan
keberatan kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum.
Keberatan harus sudah disampaikan dalam jangka waktu 14
(empat belas) hari terhitung mulai tanggal Pegawai Negeri
Sipil yang bersangkutan menerima keputusan hukuman disiplin.
Keberatan diajukan secara tertulis secara hierarki dengan
menyebutkan alasan-alasan dan bukti-bukti atas keberatannya.
Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh Menteri/Jaksa Agung,
Pemimpin Lembaga Pemerintah Non Departemen, Pimpinan Kesekretariatan
Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Gubernur Kepala Daerah
Tingkat I dan Perwakilan RI di Luar Negeri, juga tidak dapat
diajukan keberatan, kecuali jenis hukuman disiplin berupa
:
|
|
| |
|
|
|
a.
|
Pemberhentian
Dengan Hormat Tidak atas permintaan sendiri sebagai
Pegawai Negeri Sipil |
|
b.
|
Pemberhentian
Tidak Dengan Hormat Sebagai Pegawai Negeri Sipil |
|
|
| |
|
|
Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman
disiplin sebagaimana tersebut pada huruf a dan b tersebut
di atas, dapat mengajukan keberatan melalui Badan Pertimbangan
Kepegawaian, sepanjang penjatuhan hukuman disiplin berdasarkan
pada Peraturan Nomor 30 Tahun 1980 maupun karena melakukan
pelanggaran terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun
1983 jo Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1990.
|
|
| |
|
|
Bagi Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi
hukuman disiplin sebagaimana tersebut pada huruf a dan b
tersebut di atas, dapat mengajukan keberatan ke Peradilan
Tata Usaha Negara (PTUN) sepanjang penjatuhan hukuman disiplin
tersebut berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 32
Tahun 1979.
|
|
| |
|
Berlakunya Keputusan Hukuman Disiplin
|
|
| |
|
|
Semua jenis hukuman disiplin ringan yang
dijatuhkan kepada seorang Pegawai Negeri Sipil berlaku sejak
tanggal disampaikan oleh pejabat yang berwenang menghukum
kepada Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.
|
|
| |
|
|
Untuk jenis hukuman disiplin sedang dan
berat, berlaku ketentuan sebagai berikut :
|
|
| |
|
|
Apabila tidak ada keberatan, mulai berlaku
pada hari ke-15 (lima belas) terhitung mulai tanggal Pegawai
Negeri Sipil yang bersangkutan menerima surat keputusan
hukuman disiplin, kecuali :
|
|
| |
|
|
|
1.
|
Pembebasan
dari jabatan |
|
|
Jenis hukuman
disiplin berupa Pembebasan dari Jabatan mulai berlaku
sejak tanggal keputusan hukuman disiplin itu ditetapkan
oleh pejabat yang berwenang menghukum dan harus segera
dilaksanakan. |
|
2.
|
Pemberhentian
dengan hormat maupun tidak dengan hormat sebagai PNS
karena yang bersangkutan berdasarkan keputusan pengadilan
yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dinyatakan
bersalah karena melanggar ketentuan yang ancaman hukumannya
4 Tahun |
|
3.
|
Pemberhentian
dengan hormat maupun tidak dengan hormat sebagai PNS
karena meninggalkan tugas selama lebih dari 6 (enam)
bulan secara terus-menerus, diberhentikan pada akhir
bulan ketiga/awal bulan ketiga sejak yang bersangkutan
meninggalkan tugas. |
|
|
| |
|
|
Dalam pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor
30 Tahun 1980 disebutkan bahwa dengan tidak mengurangi ketentuan
dalam Peraturan Perundang-undangan Pidana Pegawai Negeri
Sipil yang melakukan pelanggaran disiplin dijatuhi hukuman
disiplin oleh Pejabat yang berwenang menghukum. Dengan demikian
maka hasil pemeriksaan aparat pengawasan fungsional yang
secara nyata telah menunjukkan adanya penyalahgunaan wewenang/korupsi,
sambil menunggu dan tanpa mengurangi proses justisial, dapat
dijadikan dasar sesuai kewenangannya untuk penjatuhan atau
usul penjatuhan hukuman disiplin Pembebasan dari jabatan
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4) huruf b
Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980.
|
|
| |
|
Ketentuan Penindakan Terhadap Kasus -
Kasus Tertentu
|
|
| |
|
|
|
1.
|
Peraturan Pemerintah
Nomor 4 Tahun 1966 tentang Pemberhentian Sementara; |
|
2.
|
Peraturan
Pemerintah Nomor 6 Tahun 1976 tentang Pengadaan Pegawai; |
|
|
Pasal 16 :
PNS yang kemudian ternyata terbukti pada waktu melamar
dengan sengaja memberikan keterangan - keterangan/bukti
- bukti/ identitas yang tidak benar atau palsu. |
|
3.
|
Peraturan Pemerintah
Nomor 32 Tahun 1979 tentang Pemberhentian Pegawai Negeri
Sipil : |
| |
|
a.
|
Pasal
8 huruf a : PNS yang melanggar/sumpah janji PNS,
sumpah/janji jabatan dan Peraturan Disiplin PNS; |
|
b.
|
Pasal
8 huruf b : PNS yang mendapat hukuman pidana penjara
yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap
karena melakukan tindak pidana yang diancam pidana
4 tahun atau lebih; |
|
c.
|
Pasal
9 : PNS yang melakukan tindak pidana kejahatan
yang ada hubungannya dengan jabatan; |
|
d.
|
Pasal
10 : PNS yang melakukan usaha atau kegiatan yang
bertujuan mengubah Undang-Undang Dasar 1945 atau
terlibat dalam gerakan atau melakukan kegiatan
yang menentang Negara dan atau Pemerintah; |
|
e.
|
Pasal
12 : PNS yang meninggalkan dinas/tidak masuk bekerja
tanpa ijin yang sah. |
|
|
4.
|
Peraturan Pemerintah
Nomor 10 Tahun 1983 jo Peraturan Pemerintah Nomor 45
Tahun 1990 tentang Ijin Perkawinan dan Perceraian bagi
PNS. PNS yang tidak melaksanakan salah satu atau lebih
kewajiban dan atau melanggar salah satu atau lebih larangan
yang diatur dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor
10 Tahun 1983 jo Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun
1990 dijatuhi hukuman disiplin berat berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. |
|
5.
|
Surat Edaran Kepala BAKN Nomor
: 08/SE/BAKN/1981 tentang tindakan Administratif terhadap
Penggunaan Ijazah Palsu/Aspal.5. Surat Edaran Kepala
BAKN Nomor : 08/SE/BAKN/1981 tentang tindakan Administratif
terhadap Penggunaan Ijazah Palsu/Aspal.
|
|
|
| |
|